Kajian Berbahasa Indonesia di Masjid Nabawi Kembali Dimulai

Estafet itu berlanjut, setelah sebelumnya Ust Dr. Firanda Andirja dan Ust Dr. Abdullah Roy mendapatkan izin untuk menjadi salah satu pemateri kajian di Masjid Nabawi (kajian berhenti karena beliau berdua sudah lulus program doktoral dan kembali ke Indonesia), Alhamdulillah estafet itu kini dilanjutkan keembali oleh Ust Ariful Bahri, MA (mahasiswa doktoral Aqidah Universitas Islam Madinh) kajian yang beliau ampu ini adalah kajian tematik bertempat pintu 21 yang dilaksanakan setiap hari ba’da maghrib sampai isya’.

Dan perlu kita ketahui bersama bahwa ada sebuah amalan di Masjid Nabawi yang terhitung sebagai jihad di jalan Allah ta’ala, yaitu datang ke Masjid Nabawi dengan niatan menuntut ilmu.

Hanya dengan niat belajar saat melangkahkan kaki menuju Masjid Nabawi, itu laksana berjihad di jalan Allah ta’ala. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ جَاءَ مَسْجِدِي هَذَا، لَمْ يَأْتِهِ إِلاَّ لِخَيْرٍ يَتَعَلَّمُهُ أَوْ يُعَلِّمُهُ، فَهُوَ بِمَنْزِلَةِ الْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ. وَمَنْ جَاءَ لِغَيْرِ ذَلِكَ، فَهُوَ بِمَنْزِلَةِ الرَّجُلِ يَنْظُرُ إِلَى مَتَاعِ غَيْرِهِ

Barangsiapa mendatangi masjidku ini, ia tidak datang kecuali untuk kebaikan yang ingin dia pelajari atau diajarkan, maka kedudukannya seperti mujahid di jalan Allah. Dan barangsiapa datang untuk selain itu, maka ia laksana orang yang hanya memandang barang orang lain. [HR. Ibnu Majah no. 227]

Memandang barang orang lain maksudnya adalah ia seperti orang yang masuk ke pasar, tapi tidak menjual atau membeli, dan hanya memandang barang orang lain sehingga tidak mendapatkan apa-apa.

Oleh karena itu, untuk para jama’ah umroh yang tidak bisa berbahasa Arab bisa menghadiri kajian berbahasa Indonesia di masjid Nabawi.

Usahakan ketika hendak keluar dari hotel atau penginapan menuju Masjid Nabawi tidak lepas dari niat mempelajari kebaikan atau mengajarkannya, agar dapat meraih pahala jihad yang telah Nabi shalallahu alaihi wa sallam janjikan.


Post Terkait

Tinggalkan Komentar