Tradisi Perayaan Meyambut Hari raya Idul Fitri Di Sungai Limau

BARITO.NET - Padang Pariaman, Sumbar, sebagai suatu daerah yang terdiri dari berbagai tradisi untuk meyambut hari raya Idul Fitri. Cara masing-masing wilayah untuk memaknai suatu perayaan yang sama pun terkadang bisa berbeda.

Perbedaannya terletak pada tradisi budaya yang dijalankan pada masing-masing wilayah.

Keunikan budaya serta tradisi ini juga membuat perayaan hari raya Idul Fitri di Padang Pariaman tetap ada tiap tahunnya.

Tiap wilayah di Padang Pariaman memilki budaya serta tradisi unik masing-masing dalam menyambut dan merayakan lebaran.

Tradisi unik untuk perayaan hari raya Idul Fitri seperti, Merayakan malam 27 Hari di bulan ramadhan, Kue Lebaran, Mambantai Ternak di hari terakhir bulan ramadhan, Pulang Basamo, Takbiran dengan Pawai Obor, serta  Manambang di hari raya Idul Fitri selalu didapati di daerah itu.

Kendati pun demikian, tradisi unik seperti itu sudah mulai memudar dan tidak semarak seperti tahun-tahun sebelumnya di berbagai wiayah yang ada di Padang Pariaman

Tradisi unik untuk menyambut perayaan hari raya Idul Fitri kali ini, akan menilik di Kenegarian Kuranji Hilir, Kecamatan Sungai Limau, Padang Pariaman.

Diketahui, di Kenagarian Kuranji Hilir, untuk merayakan malam 27 ramadhan dengan ritual membakar lilin, bakar lilin ini dilakukan oleh anak-anak.

Malam 27 disebut dengan puasa sudah pada sepuluh malam terakhir bulan ramadhan.

Mayoritas ulama berpendapat, dalam masa inilah turunya lailatul qadar. Kemungkinan diwujudkan pada malam-malam ganjil, umpamanya malam ke 21, 23 Ramadhan dan seterusnya.

Namun, pada malam ke 27 mendapat perhatian spesial dari umat Islam di daerah setempat. Wajar, pada malam itu orang-orang beriman berusaha mencari dan meraihnya.

Tersebab itu pun pula malam 27 Ramadahan, dalam tradisi masyarakat di Sungai Limau menggelar bakar lilin di setiap rumah warga. Hal ini dilakukan oleh anak-anak untuk meyambut malam 27 Ramadhan itu.

Anak-anak dengan senangnya meyambut malam 27 Ramadahan ini. Malam harinya anak-anak dengan asiknya meletakan lilin di sepanjang teras rumah atau pagar rumahnya siap untuk dibakar.

Balita 3 – 4 tahun pun tidak mau ketinggalan, mereka berkumpul di teras rumah mereka masing-masing.

Suka atau tidak orang tuanya terpaksa mendampingi anak-anaknya dalam merayakan malam 27 hari itu.  Karena telah menjadi ritual rutin setiap 27 Ramadhan.

Kemudian tradisi kue lebaran, tradisi yang satu ini tidak pernah hilang dari kebiasaan masyarakat Sungai Limau. Tradisi ini khas Sungai Limau dan selalu dinantikan oleh semua anak-anak.

Pada saat merayakan lebaran, setiap rumah yang ada di Sungai Limau secara tidak langsung harus menyiapkan beragam makanan ketika lebaran.

Seperti Kuliner wajibnya adalah kue basah dan kering, rendang, lontong gulai, serta juga minuman.

Makanan ini disediakan bukan hanya untuk keluarga saja, tetapi juga tamu yang datang ke rumah tersebut untuk bersilaturahmi.

Selain menyediakan kuliner, masayarakat Sungai limau juga memilki tradisi untuk membeli pakaian baru yang digunakan pada saat lebaran.

Pada saat berakhirnya bulan ramadhan, masyarakat Sungai Limau menggelar bantai ternak ‘memotong ternak’ seperti Kerbau dan Sapi, namanya bantai adat. Bantai adat ini sudah dipersiapkan pada 15 hari terakhir ramadhan.

Bantai ‘memotong ternak’ adat ini di lakukan atas kesepakatan Lembaga Kerapatan Adat Nagari serta forum Komunikasi Nagari yang telah di setujui oleh Walinagari setempat.

Anak-anak sangat senang dengan ritual yang satu ini, mereka dengan sengaja untuk tidak tidur semalam suntuk untuk menyaksikan ritual bantai ternak itu.

Diketahui, secara umum di Padang Pariaman budaya ‘Pulang Basamo’  sangat kental di tengah tengah masyarakat. Namun, kali ini kita akan menilik tradisi lebaran di Kenegarian Sungai Limau, Kecamatan Sungai Limau. Tradisi pulang basamo sudah mulai memudar.

Secara kultural, pulang basamo memberi arti penting bagi kelangsungan silaturahmi dan kecintaan pada kampung halaman.

Perayaan malapeh taragak ini berlangsung sekali setahun. Ritual dan maknanya kadang menggetarkan jiwa.

Selanjutnya, tradisi Takbiran dengan Pawai Obor juga sudah mulai hilang di tengah-tengah masyarakat Sungai limau.

Sebelumnya, pawai obor telah menjadi tradisi tahunan malam takbir di daerah itu.

Masing-masing korong di Kecamatan Sungai Limau telah menyiapkan anak-anak untuk menggelar pawai obor untuk melakukan takbir.

Anak-anak dengan obor ditangan berkeliling kampung mengumandangkan takbir untuk meyambut Idul Fitri.

Besok paginya, masyarakat berbondong-bondong ke lokasi sholat Ied yang akan dilangsungkan pada saat Idul Fitri.

Setelah melakukan sholat Ied, warga bersilaturahmi dengan sanak saudara dan tetangga terdekat.

Tak ketinggalan bagi anak-anak di Sungai Limau melakukan tradisi ‘Manambang’.

Tradisi ini khas di daerah itu, dan selalu dinantikan oleh semua anak-anak.

Biasanya, menambang dilakukan dengan ketika semua umat Muslim selesai melakukan sholat Ied.

Seusai melakukan Shalat, biasanya anak-anak akan bergerombol  menjadi kelompok dan bersama-sama mendatangi rumah warga.

Mereka akan bersilaturahmi dengan warga sekitar dan sebagai gantinya akan mendapatkan tunjangan hari raya dari setiap rumah yang disambangi.

Selain bersilaturahmi, anak-anak juga sekaligus memperkenalkan diri mereka kepada warga sekitar.

Menambang sekalilgus melatih anak-anak untuk memilki perasaan hormat pada tetangga kanan dan kiri, terutama.

Tradsisi ini juga melatih bagaimana anak-anak berelasi dengan orang lain. Ketika di izinkan masuk kerumah warga yang dimaksud, biasanya mereka diberikan hidangan yang beragam.

Anak-anak yang melakukan manambangan ini bisa mendapatkan dana hari raya cukup banyak lho.

Biasanya, beberapa hari menjelang hari raya, masyarakat Sungai Limau juga dengan sengaja mempersiapkan uang baru untuk diberikan kepada anak-anak ketika menambang. 


Post Terkait

Tinggalkan Komentar